Beranda Post Abu Ibrahim Ishaq : Abu Budi Lamno, Kabupaten Aceh Jaya

Abu Ibrahim Ishaq : Abu Budi Lamno, Kabupaten Aceh Jaya

40
SHARE
Abu Ibrahim Ishaq : Abu  Budi Lamno, Kabupaten Aceh Jaya

Meunan News, Com. Banda Aceh -Ulama kharismatik pendiri Pondok Pesantren atau Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI), Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Beliau salah satu ulama Aceh yang mengkader banyak para ulama generasi sesudahnya.

Selain alim, Abu Ibrahim juga lihai dalam berdebat dengan tawaran solusi-solusi jitu, sehingga kehadirannya di arena muzakarah sangat dinantikan oleh para peserta.

“Keahlian beliau dalam berdebat, mungkin diturunkan oleh gurunya Syekh Zakaria yang dikenal ahli ushul fiqih dan lihai dalam berdebat,” tulis Nurkhalis.

Mengawali karier keilmuannya Abu Ibrahim Ishaq Lamno mengenyam pendidikan umum Sekolah Rakyat (SR) di desanya Mukhan, Lamno, Aceh Jaya.

Setelah menyelesaikan pendidikan di desanya, Abu Ibrahim Ishaq mulai mengembara untuk menuntut ilmu agama di berbagai tempat.

Lembaga pendidikan agama yang pertama beliau tuju adalah Dayah Bustanul Aidarusiyah atau Dayah BUSAIDA yang didirikan dan dipimpin oleh Teungku Syekh Haji Aidarus bin Teungku Khatib Sulaiman atau dikenal dengan Abu Mesjid Sabang Lamno.

Abu Aidarus merupakan murid dari ulama pejuang Teungku Chik Ahmad Buengcala yang syahid dalam peperangan di Tangse, Pidie, Aceh.

Dan Abu Aidarus juga murid ulama ahli tasauf Teungku Haji Muhammad Arif.

Pada 1949 Abu Ibrahim Ishaq merantau untuk memperdalam ilmunya di Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan yang dipimpin oleh Abuya Syekh Muda Waly.

Pada tahun kedatangannya, banyak ulama-ulama yang masih mengenyam pendidikan di Dayah Darussalam Labuhan Haji sebut saja Teungku Syekh Aidarus Abdul Ghani Kampari, Teungku Syekh Imam Syamsuddin, Teungku Syekh Abdullah Tanoh Mirah, Teungku Syekh Syahabuddin Syah, Teungku Syekh Abdul Aziz Samalanga dan lainnya.

Sekira sembilan tahun Abu Ibrahim Ishaq di Labuhan Haji, Abu Ibrahim masih terus ingin belajar.

Beliau melanjutkan pengembaraan ilmunya ke Dayah Mahadal Ulum Diniyah Islamiah Mesjid Raya (MUDI Mesra) di Samalanga Abu Ibrahim belajar langsung kepada gurunya Teungku Syekh Abdul Aziz atau Abon Samalanga yang baru pulang dari Labuhan Haji pada 1958.

Beberapa tahun mondok di sana, Abu Ibrahim Ishaq diangkat sebagai pengajar di Dayah MUDI Mesra.

Pada era ini, di MUDI Mesra masih banyak para ulama yang masih menimba ilmu dari Abon Samalanga seperti Abu Kasim Tb yang juga teman Abu Ibrahim Budi yang sama sama pernah di Darussalam.

Abon Teupin Raya, Abu Kuta Krueng, Abu Lhoknibong dan para ulama kharismatik lainnya.

Pada 1963 setelah mengenyam pendidikan di Dayah MUDI Mesra, Abu Ibrahim Ishaq kemudian merantau ke Padang untuk belajar kepada Syekh Zakaria Labaisati Malalo, ulama ahli Ushul Fiqih, Mantiq dan merupakan murid dari ulama terkenal Padang Syekh Muhammad Jamil Jaho yang juga murid dari Syekh Ahmad Khatib Minangkabau.

Selain Abu Ibrahim Ishaq Lamno, yang belajar di Malalo Padang, ada beberapa ulama lainnya seperti: Abuya Syekh Haji Bahauddin Tawar Tanah Merah, Abuya Teungku Haji Zamzami Syam Singkil dan para ulama lainnya.

Abu Ibrahim sekira tiga tahun belajar di Malalo Padang.

Abu Ibrahim kemudian pulang ke Lamno pada 1966 atau setelah 17 tahun mengembara untuk menimba ilmu di berbagai dayah dan perguruan tinggi Islam.

Setelah menjadi alim besar, Abu Ibrahim Ishaq mendirikan Dayah Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI). Nama singkatan pesantrennya itu kemudian melekat di belakang namanya, yakni Abu Ibrahim Budi Lamno.

Mulai 1987, beliau menjadi guru, ulama yang mendidik para santri-santrinya dengan penuh komitmen dan dedikasi hingga mengantarkan mereka menjadi ulama-ulama yang mengawal agama di masyarakat.

Tidak terhitung banyaknya lulusan dari Dayah Budi Lamno, bahkan banyak yang kemudian menjadi ulama-ulama kharismatik yang diperhitungkan di wilayahnya masing masing.

Selain mengkader banyak para ulama, Abu Ibrahim Budi Lamno juga banyak membangun usaha kewirausahaan di dayah agar para santrinya menjadi para ilmuwan yang mandiri.

Sehingga begitu banyak aset yang dimiliki oleh Dayah Budi Lamno yang diperuntukkan bagi kemaslahatan umat.

Abu Ibrahim Budi juga dikenal sebagai seorang ulama yang aktif dalam setiap kajian keilmuan tingkat tinggi keislaman atau yang dikenal dengan mubahasah dan muzakarah ulama Aceh.

Dengan kedalaman ilmunya, beliau sering menjadi penengah atas berbagai polemik yang muncul dan berkembang. Sehingga disebutkan apabila sebuah muzakarah tidak hadir Abu Ibrahim Budi, maka akan terasa hambar.

Abu Ibrahim wafat pada 1997 dalam usia 61 tahun.

Sebelum wafatnya, beliau telah mengkader banyak para ulama yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya, di antara ulama-ulama tersebut adalah: Aba H Asnawi Ramli pelanjut kepemimpinan Dayah BUDI Lamno, Abu Muhammad Amin Keumala, Abati Babah Buloh, Abu Hasballah Nisam, Abu Ataillah Ishaq Ulee Titi dan puluhan ulama lainnya yang tersebar di seluruh Aceh. (Tgk Husnan)